Archive for the 'Qatar' Category

04
Mar
09

Hari pertama Musthafa sekolah

Tanggal 1 Maret 2009, hari pertama anakku Musthafa Al Mukhri sekolah. Jam 8.05 waktu Qatar, kami sekeluarga mengantarnya menuju Darl Arqam sebuah sekolah playgroup di lingkungan Al Khor Community, khusus usia sekolah dibawah 4tahun. Nursery istilah TK disini, menggunakan pengantar Inggris-Arab, umumnya siswa/i berasal dari keluarga Arab, Pakistan, India dan Indonesia. Jaraknya cukup dekat 5-8 menit saja perjalan dari rumah kami.Sebenarnya ada dua sekolah di Community, Akis dan Arqam berhubung Akis sudah penuh ya sudah di masukkan ke Arqam Musthafanya.

 Hujan rintik2 menambah dingin cuaca pagi itu.Berselang tak lama sampailah kami di Arqam, disambut seyum pak satpam orang Nepal. Kami menemui guru pembimbing, tanpa disuruh masuk Musthafa nyelonong masuk. Rupanya ia senang banyak mainan disana, eh Nabila ikut2an mau main, padahal usianya baru 2 tahun 3 bulan. Insya Allah nanti menyusul ya, De! tunggu 3 tahun. Beberapa menit Umi menunggu di depan kelas, nampaknya sejauh itu Musthafa tidak banyak masalah..mudah2an, Abi tidak ikut nunggu karena harus berangkat kerja. Semoga saja lancar dan enjoy Musthafa belajar dan main di Darl Arqam, dan makin pintar dan patuh pada orang tua. Amin.

Sampai tulisan ini dibuat Musthafa sudah 3 hari masuk sekolah, dan masih enjoy rupanya sekolah dan bermain. Walaupun kalo pagi hari harus dirayu untuk mau berangkat sekolah, eh pas liat bus jemputan ia lari sambil cengar-cengir sampai jatuh2 ngejar bus..he..he..he.

 

by ; Abu Musthafa

01
Feb
09

Al-Khor City

Sudah seminggu lebih pindah ke Al-khor. Kota nya lebih kecil dibandingkan Doha, penduduknya pun tidak terlampau banyak. Belum nampak gedung pencakar langit disini, mal besarpun tidak ada, namum masalah pengurusan lebih mudah dan cepat karena tidak perlu antri terlalu lama. Biar ngga usah banyak cerita, dikasih gambar aja deh.

al_khor_beach

 

alkhor-mosque

 

al-khor-community

 

al-khor-compound

30
Jan
09

Pindahan Rumah

Kamis 22 January 2009 kemarin kami sekeluarga pindah rumah dari Doha-al haya ke Al-khor community.

Banyak kenangan selama hampir 2 tahun tinggal di Al-haya.Al-Haya sebuah gedung berlantai 3, building 1 No 29.Diapit No 31,P’Ari cs yang ringan tangan,sering ngajak jum’atan bareng,suka kirim makanan lewat suster ada No 27. Om Filga cs yang mau sharing ADSLnya juga suka antar makanan sama Junior.

Di depan ada Uda Amril cs No 30, yang suka numpang Accord nya, mau pinjamin botol galonnya kalo kehabisan air, sorry Ril kadang suka ngintip lewat lobang pintu depan dah berangkat belum ya.

Pojok kiri depan ada No 32 Pakde Agung cs,yang suka ngajak jalan2 biar makin akrab, terus ada Pakde Eca yang sabar No 26 suka ngajakin bareng ke pabrik dengan bandotnya, di No 25 Pak Rury selaku “ketua RT” Al Haya yang selalu perhatian, Abah Fitra yang paling sering nelepon jika ada kabar penting dan terbaru.

Wah..pokoknya banyak deh kenangan dengan saudara2 saya di building 1 Al Haya, cukup yang bagus2 saja yang diingat.

Tengok ke luar ada P’ Kaswir, P’ Mul,P’Syahrial, P’Iding, P’Irwan,P’Abot, P’Zubir, P’Gatot,P’Budi,P’Andi,P’Irsan,P’KD-sorry yah ngga bisa barengan lagi- dan Bapak2 yang lainnya yang ngga bisa disebutkan satu-satu.

Al-khor community buat karyawan Rasgas dan Qatargas jaraknya cukup dekat dengan area pabrik, so bisa cepat datang kalo sewaktu-waktu di butuhkan.

Semoga tempat yang baru membawa keberkahan dan ketentraman. Amin.

 

by Tulus

06
Jan
09

Cuaca di Qatar

Subhanallah, cuaca di Doha minggu-minggu ini semakin dingin. Temperatur berkisar 12-15 deg.C di pagi hari. Siang cenderung naik hingga 18-20 deg.C. Malam kembali dingin, kesimpulannya jadi tidak menentu. Ditambah lagi angin pantai yang menembuh kulit. Bulan Desember – Maret merupakan winter day di Qatar dan kawasan teluk lainnya.

Umumnya bangsa melayu ( baca Indonesia, Malaysia) perlu adaptasi tiap tahun dengan cuaca ini.Pilek , batuk, demam, kulit kering harus di waspasdai biar ngga kena. Tahun ini kami sekeluarga di ingatkan Allah dengan di kasih batuk-batuk dan pilek, mudah-mudahan cepet sembuh deh. Siap2 obat-obatan, heater dan baju hangat kalo sudah seperti ini.Puncaknya biasanya di akhir Januari, temperatur bisa sampai 8 deg.C.

Kebayang deh, kondisi Kaum Muslimin di Gaza….yang juga musim dingin. So pasti mereka lebih menderita. Semoga Allah menguatkan mereka dan memberi kemenangan. Allahu Akbar.

26
Des
08

Hidup di Qatar Antara Suka dan Duka (II)

Nah ini bab II yang saya janjikan, tempo lalu.

Alhamdulillah rejeki cukup.

Alasan satu ini memang tidak bisa dipungkuri oleh siapapun yang kerja di Qatar. Mereka pasti memiliki tujuan yang sama, mencari duit sebanyak-banyaknya untuk di bawa pulang. Memang pemerintah Qatar tidak pelit untuk menggaji orang Indonesia khususnya di industri Migas dan Petrokimia. Rata-rata mereka sanggup membayar 5 sampai 10 kali lipat gaji di Indonesia.Pasti dengan gaji sebesar itu sangat berlebihan untuk ukuran kita. Sebagian besar kawan-kawan disini menyisihkan uangnya untuk di investasikan, dibuat usaha untuk bekal balik ke tanah air nantinya. Ada pula yang menghabiskan untuk dinikmati sepuas-puasnya disini, tergantung pribadi masing-masing.Tempat tinggal dan akomodasi sudah di biayai perusahaan, jadi tak usah repot-repot mencari tempat tinggal dan perlengkapannya. Ada beberapa item barang rumah yang harus dibeli, namun tidak terlalu banyak.Listrik dan air bebas pakai,kesahatan, pendidikan terjamin walaupun kualitas belum memuaskan.

Jarang Macet.

Tidak seperti di Jakarta dan kota besar lainnya di tanah air. Macet mungkin jarang di temui, khusus di kota Doha saja sebagaian macet dan jam tertentu pula. Umumnya tidak begitu macet apalagi hari jumat dan sabtu, waktu yang enak untuk keliling kota sambi menikmati suasana alam padang pasir

Aman.

Selama tinggal di Doha tidak pernah dam jarang saya temui adanya maling, copet, jambret, pelecehan seksual, kekerasan, perampokan dan kejahatan lainnya. Kalaupun ada dan tahu hanya lewat lewat Koran, itupun jarang. Media massa disini cenderung menonjolkan sisi positif kota Qatar. Sangat minim memunculkan berita negative dan berbau criminal, entah memang faktanya tidak ada atau ditutup-tutupi.

Tidak ada Banjir.

Kalo yang satu ini memang tidak ada di Indonesia khususnya seperti di Jakarta.Wong hujan aja setahun bisa di hitung mungkin tiga sampai lima kali saja.

Umroh dan Haji dekat dan mudah.

Jika niat dan fisik sudah oke, Insya Allah dengan mudah Anda di permudah untuk melakukan ibadah yang satu ini. Ongkosnya pun relatif murah dibandingkan berangkat dari tanah air. Umroh Anda cukup mengeluarkan kocek 3 juta/orang via darat, via udara kisaran 6 juta/orang. Sedangkan Haji Anda harus mengeluarkan dana sebesar kurang lebih 18 juta/orang via darat.

Mengenal berbagai Bangsa.

Masyarakat pribumi memiliki kultur Arab yang kuat, mungkin hanya 20 % penduduk aslinya, sisanya merupakan pendatang. Lingkungan kerja saya terdiri dari hampir 40 lebih bangsa dari berbagai negara. India pendatang terbesar di sini, disusul Philipina, Pakistan,Nepal, Mesir, Syria, Saudi, Iran, Indonesia, Malaysia, Africa,UK, USA, Venezuela, Korea, Jepang, Bangladesh dsb. Anehnya bangsa Cina jumlahnya sangat sedikit, entah mengapa. Salut buat Qatari ( sebutan orang Qatar) mereka seperti raja di negeri sendiri, tidak seperti halnya di tanah air tercinta Indonesia – budak di negeri sendiri-. Pendapatan Qatari melebihi expatriat disini dengan posisi yang sama tentunya. Pemerintah menjamin kebutuhan pokok rakyatnya khususnya penduduk lokal. Mereka yang pandai disekolahkan keluar negeri, yang menganggur di berikan pekerjaan, yang ingin berbisnis diberikan kemudahan fasilias dan pinjaman. Sangat kontradiktif dengan masyarakat kita di tanah air…oh…malangnya bangsa ku. Justru para pribumi menjadi kuli dan sapi perahan bangsa lain.Lihat saja pemegang perekonomian bangsa kita? Mungkin kita perlu belajar dari orang Arab dalam hal ini. Walaupun sisi negatif mereka cukup banyak. Saya disini akan menceritakan sisi positif dari bangsa yang hidup di Qatar, sekedar sharing saja terlepas penilain saya salah atau benar, terlalu subjek atau tidak mohon dimaklumi. Penilaian ini sekedar menceritakan fakta saja.

  • Bangsa Arab-Qatar. Sikapnya pemberani, tegas dan berwibawa. Tidak cerdas secara intelektual namun memiliki jiwa leadership yang tinggi. Pantang tunduk pada bangsa lain, nampak dari egoisme mereka. Sikap inilah yang membuat mereka sulit diatur dan dikendalikan oleh bangsa lain. Mungkin hanya bangsa eropa yang mampu menandingi dalam arti mengendalikan secara intelektualitas di tambah kondisi jaman saat ini setiap bangsa masih merujuk pada peradaban barat.
  • Bangsa India. Mengapa saya komentari orang keling , orang bawang pada posisi kedua. Semata-mata karena seringnya saya berinteraksi dengan mereka. Keling istilah kami menyebut mereka karena warna kulit mereka dan bawang karena makanan kegemaran mereka. Gigih dan pekerja keras, itulah sikap mereka umumnya sehingga menjadikan mereka tetap survive di negeri Qatar.Kemampuan bahasa inggris diatas orang Indonesia menjadikan mereka lebih unggul dalam hal komunikasi kerja. Secara teknikal dan kecerdasan intelektual bangsa Indonesia tetap lebih unggul. Budaya mereka yang tidak banyak aturan dan tata krama membuat mereka fleksibel dalam bergaul oleh semua kalangan, sehingga menambah nilai lebih. Istilah singkatnya kemampuan adaptasi mereka lebih unggul dibandingkan kita orang Indonesia.
  • Bangsa Arab non Qatar. Mereka umumnya memiliki sifat yang sama dengan bagsa Arab pada umumnya. Faktor territorial membuat mereka di Qatar tidak sebebas di negerinya sendiri, hukum di Qatar sangat tegas dan memungkinkan siapa saja untuk di deportasi apabila membuat kesalahn fatal. Mesir, Syria, Jordan, Palestina, Iran, Irak, Saudi dan kawasan arab lainnya memiliki bahasa yang sama sehingga membuat mereka cepat beradaptasi ditambah alam dan iklim yang sama.
  • Eropa dan Barat. Tahu sendiri lah yang ini.
  • Indonesia-Melayu. I like this peoples.

Oke. sampai disini dulu yah…mudah-mudahan bertemu lagi dalam cerita yg lain.

Salam : Tulus Sajiwo

 

18
Des
08

HUT Qatar 18 Des

18 Desember, merupakan HUT Qatar.

Tahun ini kami dkk mengisinya dengan keliling wilayah utara Qatar, cukup jauh dan melelahkan.

Berikut gambar yang berhasil kami rekam, terkadang gambar memberikan cerita lebih dari sebuah tulisan.

Al Ghariya Beach

Al Ghariya Beach

 

Al Jubara

Al Jubara

Camel Race

Camel Race

 

Friends

Friends

 

By: Tulus Sajiwo

14
Des
08

Hidup di Qatar Antara Suka dan Duka

Hidup di Qatar Antara Suka dan Duka

Cornice-Doha

Cornice-Doha

Terdampar di negeri orang memang menjadi kesan tersendiri bagi setiap orang. Mungkin sudah garis hidup yang harus dipilih, entah ke depannya bagaimana? Menjadi tanda Tanya buat kita semua. Pilihan hidup sudah dipilih, lalu bagaimana menjalaninya itu pilihan Anda.

Qatar, negeri di kawasan teluk bagian dari kawasan Timur Tengah beberapa tahun terakhir ini sejak industri Migas meningkat, banyak pekerja Indonesia tertarik bekerja di sini. Beraneka alasan dan impian menjadi motivasi mereka. Kalau di tarik garis merah, umumnya mereka termasuk saya, uang adalah motivasi utama sehingga rela meninggalkan kenyamanan dan keindahan negeri tercinta Indonesia. Pengalaman dan karir hanya bagian pelengkap saja.

Secara umum tenaga kerja Indonesia di Qatar terbagi menjadi dua kelompok – bukan bermaksud mengelompokan–. Pertama, tenaga kerja formal . Formal yang dimaksud TKI yang bekerja di dunia industri, manufacture, perhotelan, transportasi, perdagangan,pemerintahan yang sifatnya ada lembaga formal/instansi dimana mereka bekerja. Kedua tenaga kerja informal. Umumnya mereka ini bekerja atas nama individu terkait, seperti pembantu rumah tangga, sopir pribadi dan pekerja toko.

Tulisan ini tidak akan membahas lebih jauh tentang itu, terlalu serius. Jelasnya saya ingin merekam pengalaman hidup saya selama bekerja di Qatar. Sejak Januari 2007 saya bekerja di RasGas salahsatu industri migas andalan Qatar. Alhamdulillah untuk ukuran orang Indonesia jaminan hidup dan gaji yang diberikan perusahaan sudah lebih dari cukup.Kehidupan di Qatar memang sangat berbeda denngan di kampung saya dahulu.Lebih penuh tantangan, keras dan bahagia. Dalam tulisan saya akan di bagi dalam dua kategori, kategori pertama duka di negeri Teluk, dan yang kedua bercerita tentang yang enak-enak.

Duka di negeri Teluk.

  1. Panas. Sudah menjadi gambaran umum yang namanya tinggal di negeri Arab pasti iklimnya panas.Memang benar adanya, disini panasnya mencapai 50 deg.C disaat summer. Malas keluar rumah kalau sudah panas terik dan di tambah humidity yang tinggi. Lima menit saja Anda keluar rumah sekujur tubuh akan penuh dengan keringat. Weleh-weleh….Umumnya penduduk disini disaat summer mereka rekreasi keluar negeri atau sekedar jalan ke Mall atau ruangan indoor yang ber-AC. Bibir pecah-pecah, hidung terkadang berdarah dan kulit kering menjadi hal biasa bagi orang Indonesia yang tidak terbiasa. Kalau sudah seperti ini harus diantisipasi dengan mengurangi keluar rumah, banyak makan buah dan minum serta gunakan lotion kulit.
  2. Sulitnya Transportasi Umum. Bagi pendatang baru, pasti mengalami sulitnya mencari taksi, lamanya menunggu bus apalagi mencari angkot. Tidak seperti di setiap kota di Indonesia yang dengan mudahnya mendapatkan transportasi umum. Taksi di Qatar khususnya di Doha hanya ada di daerah-daerah tertentu yang banyak penggunanya, seperti di Mall, terminal, bandara. Selain dari itu kita harus pesan.Begitupun dengan bus umum, berjam-jam menunggu di tengah teriknya matahari menjadi pengalaman yang sangat mengesalkan.Halte bus hanya sebuah tiang besi dihiasi peta rute bus.Tidak ada angkot, kereta api apalagi ojek. Tidak ada tukang es cendol, the botol, gorengan di pinggir jalan menambah penderitaan. Mudah-mudahan pemerintah disini semakin memperhatikan para pengguna transportasi umum. Jadi jangan biarkan keluarga Anda berjalan keluar rumah dengan naik kendaran umum khsususnya di musim panas. Kendaraan pribadi – mobil — disini sudah menjadi kebutuhan penting, khususnya yang sudah berkeluarga.
  3. Sulitnya mendapatkan SIM. SIM disini menjadi syarat utama memiliki kendaraan mobil. Tanpa SIM Anda mengendarai mobil, dendanya tidak tanggung-tanggung mencapai 3000 QR ( 9 juta rupiah). Disini tidak ada istilah transaksi dengan polisi, sekali saja mencoba maka penjara taruhannya. Hukum sanagat ketat, namun tidak untuk orang local. Jika Anda ingin memiliki SIM mobil, dapat langsung tes drive dengan menunjukkan SIM A Indonesia Anda ke kantor polisi.Umumnya jarang yang langsung lulus tes, dan harus mengulang dua minggu lagi setelah tiga kali gagal maka diharuskan sekaolah. Kalau Anda tidak punya SIM A maka harus sekolah nyetir dulu, selama berhari-hari ada beberapa pilihan 12 hari, 24 hari atau 50 hari dan itu tidak gratis. Tidak seperti di Indonesia kita bisa dengan mudahnya mendapatkan SIM tanpa harus tes, kalaupun tes itu hanya formalitas. Disini tidak demikian, semua prosedur harus di jalani. Mulai dari pengurusan administrasi, sekolah setir, tes drive hingga pengambilan SIM. Ujian setir mobil didahului dengan ujian rambu-rambu, L parkir, pocket parkir dan road test. Polisi tidak bisa di ajak kompromi salah sedikit “khalas” / finish/ tamat, tidak boleh protes dan debat. Kalau macam-macam hukumannya penjara –alamak–.Rasanya luar biasa kalau sudah punya SIM, bahagia, senang dan aman. Dengan SIM ditangan sudah sah menaiki dan memiliki kendaran, berarti penderitaan Anda di Qatar berkurang.
  4. Makanan; Sudah menjadi keumuman setiap individu yang merantau ke negeri orang, makanan menjadi masalah. Sejauhmana kita mempu beradaptasi dengan makanan sekitar. Awalnya memang sulit makan makanan ala Arab atau India, namun ada beberapa menu yang cocok ya itulah yang kita makan.Seperti chicken swarma, chicken bukhari, parata cicken kari, mutton kari. Khusus masakan Turki I like it, nanti ceritanya di judul suka cita di Qatar. Semakin lama semakin mudah mencari makanan Indonesia, beberapa restaurant sudah mulai buka, di Mall sudah banyak bahan bahan baku masakan Indonesia, serta toko-toko yang menjual beberapa makanan khas Indonesia seperti ikan asin, indomie, bumbu jadi Indonesia dan kawan-kawanya. Masalah ini tidaklah menjadi masalah berlalut, hanya saja terkadang kita rindu jajanan ala Indonesia. Seperti siomay, bakso, mpek-mpek, lupis, misro dkk. Walaupun saat ini sudah mulai ada dari kalangan ibu-ibu yang berinisiatif menjual panganan ala indo. Alhamdulillah terobati, walaupun masih belum puas.
  5. Was-was bawa mobil. Edan, begitulah istilah kita kalau melihat orang Qatar bawa mobil. Mobilnya besar-besar ada Hummer, Land cruiser, Tahoe, explorer, pathfinder, GMC dkk bawanya gila bener, agresif.Di jalur highway bisa sampe 200km/jam lebih sudah gitu ngasih lampu beam lagi. Wah kudu hati-hati kalo sudah dibelakang mereka. Di dalam kota, terkadang mereka main salip aja, apalagi di daerah roundabout (putaran) sering kecelakaan. Bagi mereka Qatari mungkin tidak masalah, mobilnya masih lima di garasi.Kalo sudah kena accident, panjang urusannya sama polisi. Wah paling bête deh pokoknya, belum lagi harus nyediakan waktu untuk ngurusin, antri di kantor polisi.Pusing.Ditambah lagi banyak kamera pengintai di jalan, apabila over speed atau nerobos lampu merah. Dendanya tidak tanggung-tanggung over speed kisaran 300 – 900 QR (1 – 3 juta rupiah) apalagi kalo nerobos lampu merah bisa sampai 6000 QR (18 juta rupiah). Pokoknya doa sebelum keluar rumah deh.
  6. Minim Layanan Kesehatan. Rumah sakit cukup banyak di tunjang fasilitas yang cukup lengkap. Semua biaya di cover perusahaan. Namun ada masalah umum buat orang Indonesia disini, entah semua merasakan atau tidak. Faktanya pelayanan kesehatan disini di bandingkan di negeri tercinta Indonesia jauh berbeda. Lebih oke di Indonesia. Entah mungkin masalah bahasa dan komunikasi atau memang tidak bagus pelayanannya. Pengalaman saya, untuk tambal gigi saja bisa enam kali harus bolak-balik rumah sakit, diagnostic kesehatan harus berlama-lama buat janji dan lama mendapatkan hasilnya. Terkadang menajdi trauma tersendiri bagi beberapa orang yang ingin berobat di disini, kecuali emergency.

Sudah dulu deh, cerita masalah duka hidup di Qatar. Masih banyak hal-hal yang yang tidak bisa di ceritakan disini. Namun beberapa point diatas mewakili cerita duka saya selama ini. Saya akan lanjutkan ke tulisan ke-2 mengenai suka hidup di Qatar dalam sub judul berikutnya.

 

By : Tulus Sajiwo




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.